Amor Fati

Amor fati adalah frasa Latin yang bermakna mencintai nasib atau mencintai takdir.

Frasa Ini digunakan untuk menggambarkan suatu sikap ketika seseorang melihat segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya seperti penderitaan dan kehilangan sebagai sesuatu yang baik, atau, paling tidak, perlu.

Istilah amor fati sering diasosiasikan dengan konsep Friedrich Nietzsche "pengulangan abadi", yaitu sebuah gagasan bahwa dalam periode yang tidak tertentu, segala sesuatu akan berulang secara terus menerus. Dari perspektif ini, Nietzsche mengembangkan gagasan untuk bersedia untuk menjalani kehidupan yang sama secara berulang-ulang untuk selamanya.

Konsep amor fati juga didiskusikan dalam filsafat Stoikisme.

Nietzsche

Konsep amor fati sering dikaitkan dengan filsafat Stoikisme termasuk karya-karya filsuf seperti Epictetus dan tulisan Marcus Aurelius, (meskipun dia menulis dalam bahasa Yunani, bukan Latin). Namun, konsep amor fati secara eksplisit dikembangkan oleh filsuf Friedrich Nietzsche yang menjadikan sikap mencintai takdir sebagai salah satu hal yang utama dalam filsafatnya. Dalam "Why I Am So Clever" Ecce Homo, bagian 10, dia menulis:

"Formula saya untuk kebesaran dalam diri manusia adalah amor fati: bahwa seseorang tidak menginginkan ada sesuatu yang berbeda, tidak maju, tidak mundur, untuk selamanya. Tidak hanya menanggung apa yang perlu, apalagi menyembunyikannya — semua idealisme adalah kebohongan dalam menghadapi apa yang diperlukan — tetapi menyukainya."

Ungkapan ini juga digunakan dalam karya Nietzsche lainnya yang merepresentasikan pandangan tentang kehidupan yang ia ungkapkan di bagian 276 dari The Gay Science:

"Saya ingin belajar lebih dan lebih untuk melihat sebagai keindahan apa yang diperlukan dalam hal-hal (kehidupan); selanjutnya saya akan menjadi salah satu dari mereka yang membuat hal-hal yang indah. Amor fati : biarlah itu menjadi cinta saya untuk selanjutnya! Saya tidak ingin berperang melawan apa yang jelek. Saya tidak ingin menuduh; Saya bahkan tidak ingin menuduh mereka yang menuduh. Mengalihkan pandangan (menghindar) adalah satu-satunya negasi saya. Dan setelah semua dipertinbangkan dan secara keseluruhan: suatu hari nanti saya ingin menjadi orang yang hanya mengatakan Ya."

Nietzsche dalam konteks ini mengacu pada "Yes-sayer", bukan dalam arti politik atau sosial, tetapi sebagai orang yang mampu menerima kenyataan tanpa kompromi.

RJ Hollingdale, yang menerjemahkan karya Nietzsche, "Thus Spake Zarathustra" ke dalam bahasa Inggris, berpendapat bahwa gagasan Nietzsche tentang amor fati berasal dari Pietisme Lutheran di masa kecilnya.

Penderitaan

Kecintaan Nietzsche pada takdir menuntunnya untuk menghadapi realitas penderitaan dalam kehidupan secara radikal. Karena untuk mencintai apa yang diperlukan tidak hanya menuntut kita mencintai yang buruk bersama dengan yang baik, tetapi kita memandang keduanya sebagai hubungan yang tak terpisahkan. Di bagian 3 dari kata pengantar The Gay Science, dia menulis:

"Hanya rasa sakit yang luar biasa yang merupakan pembebas utama dari jiwa .... Saya ragu bahwa rasa sakit seperti itu membuat kita 'lebih baik'; tapi saya tahu itu membuat kita lebih 'mendalam'."

Nietzsche tidak mempromosikan penderitaan sebagai sesuatu yang baik, tetapi penderitaan ia anggap sebagai prasyarat untuk kebaikan. 'Satu momen' kebaikan dapat membenarkan kekekalan yang buruk, tetapi satu ekstrem tidak dapat memiliki makna tanpa yang lain. Dalam Will to Power, dia menulis:

“Karena tidak ada yang mandiri, baik dalam diri kita sendiri maupun dalam hal-hal lain; dan jika jiwa kita bergetar dengan kebahagiaan dan terdengar seperti senar harpa sekali saja, semua keabadian diperlukan untuk menghasilkan satu peristiwa ini—dan dalam satu momen penegasan ini. semua kekekalan disebut baik, ditebus, dibenarkan, dan ditegaskan."

Referensi

Tags:

Bahasa LatinPenderitaanTakdir

🔥 Trending searches on Wiki Bahasa Indonesia:

Tulah MesirDaftar warnaIjtihadMuhammad Hasyim Asy'ariAdhi MakayasaSyahadatCut Mini TheoOnadio LeonardoArifin TasrifSurah Al-BaqarahKetoprak (seni budaya)Kerusuhan PosoNasionalismeVenusSuku BugisBuya Hamka (film)Tragedi TrisaktiSerli Artika SrideviSerangan Umum 1 Maret 1949KomunikasiGenre musikKKN di Desa Penari (film)Joko WidodoSuratSajadah Panjang (seri web)A.C. MilanAiman WitjaksonoEka Wira DharmawanTim nasional sepak bola IsraelSpanyolMegawati SoekarnoputriLuksemburgHamengkubuwana XRamadanErling HaalandEdward Omar Sharif HiariejLee Do-hyunSejarah IndonesiaGelar kebangsawanan EropaIko BustomiCandi PrambananBrunei DarussalamMichelle ZiudithMagisterSejarah IslamLiga Champions UEFAMukjizat Yesus KristusBoy Rafli AmarMalukuAustraliaPalagan AmbarawaKartiniSutan SjahrirKevin Sanjaya SukamuljoXNXXArema FCIbnu Rusyd0 (angka)BakteriTujuh Perkataan SalibTerjemahanSerangan bom atom Hiroshima dan NagasakiDaftar produksi SinemArtAhmad LuthfiBank Rakyat IndonesiaWarna (Hindu)WisanggeniAdinia WirastiEtnosentrismeDeklarasi DjuandaKelurahanMinecraftAgus Harimurti YudhoyonoIndiaPolitikKesultanan DemakEka GustiwanaDaftar kecamatan dan kelurahan di Daerah Khusus Ibukota JakartaP🡆 More