Wiki Tips and advice Indonesia - Bahasa Indonesia

Bagaimana Cara Mengelola Sampah Elektronik?

Ingin memberikan sentuhan alami pada tampilan rumah? Salah satu trik yang bisa Anda coba adalah menggunakan tembok batu alam untuk dinding bagian luar atau dalam rumah. Dinding batu alam ini cocok diaplikasikan ke berbagai jenis hunian, baik yang bergaya tradisional, rustic, mediterania, hingga minimalis. Yuk, kenali jenis-jenis tembok batu alam!

Diperbarui

Ditulis oleh Admin

10.Wiki Tips Bahasa IndonesiaMarch2022Header

Durasi Baca 3 - 4 Menit

Sampah elektronik dikenal juga dengan sebutan e-waste. Dari namanya, Anda mungkin sudah bisa membayangkan seperti apa yang dimaksud dengan sampah elektronik. Yup, sampah yang berasal dari peralatan elektronik.

Setiap rumah tangga pasti menghasilkan sampah elektronik yang berasal dari peralatan elektronik yang sudah tidak terpakai. Mulai dari ponsel, televisi, komputer/laptop, charger, kamera, powerbank, mesin cuci, dan alat elektronik lainnya.

Dampak Buruk Sampah Elektronik

Ternyata, kalau dibuang sembarangan alias tidak dikelola dengan benar, e-waste bisa berdampak buruk bagi lingkungan, sama seperti sampah anorganik yang tidak mudah terurai lainnya. Ini karena sampah elektronik mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun. Komponen barang elektronik mengandung logam berat seperti aluminium, antimon, besi, kadmium, kobalt, kromium, lithium, merkuri, nikel, perak, seng, tembaga, dan timah. Kalau sampah elektronik ini dibakar, asapnya bisa merusak lapisan atmosfer. Di sisi lain, kalau sampah elektronik ditimbun, zat beracun dari komponennya bisa mencemari tanah dan air. Ini tentu bisa membahayakan kesehatan manusia karena menyebabkan kerusakan DNA, jantung, hati, limpa, dan otak. Selain itu juga bisa memicu kanker dan bronkitis.

Yuk, Kelola Sampah Elektronik dengan Benar!

Untuk mencegah dampak buruk sampah elektronik, ke depannya, Anda bisa melakukan langkah-langkah berikut:

Pengumpulan Kumpulkan barang elektronik yang sudah tidak digunakan di satu tempat. Jangan membuangnya ke tempat sampah yang menampung sampah rumah tangga. ● Pemilahan Pilah sampah elektronik berdasarkan jenisnya untuk memudahkan pengelolaannya. ● Perbaikan Kadang, ada sampah elektronik yang sebenarnya masih bisa diperbaiki dan digunakan kembali. Anda bisa memisahkan barang elektronik yang sudah benar-benar rusak dan yang masih bisa direparasi sehingga bisa dimanfaatkan kembali. ● Daur ulang Proses ini hanya bisa dilakukan oleh perusahaan yang memiliki izin untuk mengelola limbah elektronik sesuai standar dan prosedur yang telah ditetapkan, mulai dari tahapan ngumpulan, pengangkutan, pemilahan hingga ke proses pendaurulangan dan pemusnahan. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Data menunjukkan bahwa sampah elektronik di Indonesia sangat banyak, yaitu mencapai 49,8 juta ton pada 2018. Hal ini tentu perlu diperhatikan secara serius agar sampah elektronik tidak merusak lingkungan dan membahayakan keselamatan masyarakat. Pemerintah pun telah melakukan sejumlah upaya untuk mensosialisasikan bahaya sampah elektronik serta penjemputan limbah elektronik kepada masyarakat. Warga bisa mengumpulkan sampah elektronik di wilayah atau kecamatannya, untuk nanti dikirim ke gudang dinas lingkungan hidup.

Bahkan, warga DKI Jakarta bisa meminta petugas dinas lingkungan hidup di wilayahnya untuk menjemput dan mengangkut limbah elektronik di rumah-rumah. Informasi lebih lengkap soal ini bisa dilihat di https://lingkunganhidup.jakarta.go.id/. Selain mengelola sampah elektronik dengan baik, Anda juga bisa ikut melestarikan lingkungan dengan membeli produk kebersihan ramah lingkungan. Misalnya, produk yang menggunakan kemasan daur ulang seperti deterjen Rinso dan pembersih lantai Wipol. Sekecil apa pun kontribusi kita, pasti akan bermanfaat bagi bumi tercinta.

Awalnya diterbitkan